Dari kebun hortikultura di belakang rumah hingga teknologi pendeteksi asap, warga Desa Kuala Dua, Kubu Raya, merawat gambut agar tetap produktif. Mereka bertani tanpa membakar, meracik pupuk organik, sekaligus berjaga ketika api mengancam.
KUBU RAYA — Di belakang rumah Saban, pohon-pohon jambu dan alpukat tumbuh berbaris di atas lahan gambut seluas 1,4 hektar miliknya. Di antara rimbun daun jambu itu, buah-buah merah menggantung. Sebagian telah siap dipetik.
Mengenakan topi caping, Saban (47) mendekati pohon, memeriksa buah, lalu menunjukkan tanaman lain yang tumbuh di lahan gambut di belakang rumahnya, Desa Kuala Dua, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.
Siang itu, cuaca tak begitu terik. Asap masih menggantung di udara. Tidak pekat namun cukup terlihat dan tercium. Ada beberapa ibu paruh baya dan 2 orang bapak-bapak ikut serta. Mereka adalah sekelompok tani Berkah Pelopor Petani Gambut (BPPG) yang diketuai oleh Saban. Ada 22 anggota terdiri dari petani perempuan dan laki-laki dalam kelompok itu.
Hari itu, hari petik buah. Ibu-ibu tampak bersemangat. Berbekal keranjang dan sambil berceloteh, ibu-ibu mulai memanen.
Ada 300 batang jambu air di lahan demplot 1 ini. Ketika musim panen besar, mereka bisa panen hingga 2 ton buah. Kata Saban, memanen jambu tidak tergantung musim. Hampir setiap hari bisa dipanen.
“Jambu di tempat kita ini tidak pakai berapa kali panen, karena setiap hari itu pasti ada panenan. Kecuali panen raya. Kalau panen besar atau panen raya itu bisa 3 bulan sekali, tapi ini setiap hari juga masih ada,” jelasnya
Kebun dekat jalan raya Desa Kuala Dua itu menjadi contoh upaya menjaga gambut tetap produktif tanpa pembakaran.
Dari luar, tempat itu tampak seperti kebun buah biasa. Namun, ada cerita panjang di balik pohon-pohon yang tumbuh di sana. Saban pun bercerita.
Dahulu, ia seorang pedagang. Persaingan usaha membuatnya berpikir untuk beralih pekerjaan. Bertani. Lalu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengubah jalan hidupnya lebih jauh lagi.
Saban masih mengingat bagaimana kebun karetnya seluas lebih dari sehektar hangus dalam waktu sekitar setengah jam. Saat itu, kebun tersebut bahkan belum sempat memberinya hasil panen. Ia kemudian mencoba menanam nanas. Namun, kebun itu kembali menjadi korban kebakaran pada 2019.
“Belum sempat dipanen, terbakar karet itu. Habis dalam waktu setengah jam. Begitu pula nanas,” kenangnya
Dua kali kehilangan membuatnya berpikir ulang. Jika terus mengulang cara yang sama, ia khawatir akan terus mengeluarkan modal untuk memulai dari awal. Kesempatan untuk mengubah cara bertani datang ketika ia mengikuti sekolah tani gambut yang ditawarkan melalui desa. Dari sana, ia mengenal pengelolaan lahan tanpa bakar. Pengetahuan itu kemudian dicoba dan dikembangkan bersama warga lain.
Sejak 2020, ia mulai menerapkan pengolahan lahan tanpa bakar. Ia mengajak warga untuk menanam tanaman buah dengan pendekatan agroforestry, yakni memadukan pohon-pohon produktif dengan tanaman pendamping.
Pada akhir 2021, upaya tersebut mulai dikembangkan bersama kelompok tani dan mendapat dukungan Pertamina AFT Supadio, yang kemudian menjadi bagian dari program pendampingan agroforestry di Kuala Dua.
“Waktu itu kita coba menggunakan agroforestry. Kita tanam tanaman tegakan, tanaman buah. Kemudian kita kasih tanaman ubi kayu atau singkong sebagai pendamping. Alhamdulillah kita bisa panen terus,” ucapnya.
Hingga saat ini ada 2 demplot yang dikembangkan. Demplot 1, di atas lahan miliknya, warga menanam jambu, jambu Jamaika, alpukat, dan nangka. Tak jauh dari lahannya, di demplot 2 dengan luas lahan 8000 meter, petani mengembangkan jengkol, petai, matoa, alpukat, dan durian, dengan singkong sebagai tanaman pendamping.
Pertanian ini tidak dibangun dengan harapan memperoleh keuntungan seketika. Menurut Saban, sebagian tanaman membutuhkan waktu untuk tumbuh sebelum menghasilkan buah. Karena itu, tanaman pendamping dapat menjadi pilihan untuk memberi manfaat ekonomi sembari menunggu tanaman tahunan berkembang.
Pengolahan gambut tanpa bakar ini bukan sekedar mengganti cara membersihkan lahan. Saban ingin kebun tetap menghasilkan tanpa mengorbankan tanah yang menjadi tumpuan hidup masyarakat.
Merawat Gambut
Merawat gambut harus dimulai dari keputusan sederhana: tidak membakarnya.
Saban dan kelompoknya memilih menanam pohon buah, memanfaatkan bahan organik, dan tidak membakar vegetasi.
Saban mengatakan, menanam pohon buah merupakan salah satu cara mempertahankan gambut. Alih-alih tanaman sayur-mayur, ia dan kelompoknya memilih tanaman buah terutama jambu-jambuan sebagai tanaman tegakan. Pilihan itu berangkat dari pengalamannya mengelola lahan.
Salah satu ibu-ibu kelompok tani gambut saat memanen jambu
Menurut Saban, pertanian sayur-mayur menuntut petani terus menjaga tanaman dan mengikuti siklus panen yang relatif singkat. Sementara itu, ia ingin kelompoknya mengembangkan pola pertanian yang tidak hanya menghasilkan dalam waktu dekat, tetapi juga dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
“Kalau di gambut memang baiknya tanam pohon,” kata Saban.
Saban mengatakan, pohon buah juga punya arti ekologis. Ia meyakini keberadaan pohon dan tutupan vegetasi penting untuk menjaga kondisi lahan. Guguran daun dan ranting dibiarkan menjadi bagian dari siklus bahan organik yang kembali ke tanah.
“Jadi guguran dedaunan dan ranting itu akan terjadi pembentukan gambut kembali,” ujarnya, menjelaskan alasan kelompoknya memilih tanaman buah sebagai tanaman tegakan.
Keputusan mengolah gambut tanpa bakar juga merupakan pertimbangan ekonomi. Membakar mungkin tampak lebih cepat pada awal pembukaan lahan, tetapi keuntungan sesaat itu dapat diikuti biaya yang lebih besar ketika petani harus kembali menanam setelah kebakaran. Karena unsur hara pada tanah ikut mati terbakar, maka diperlukan pupuk kimia untuk mengembalikan kesuburan tanahnya.
“Kalau kita menggunakan lahan tanpa bakar itu kita pasti menggunakan pupuk-pupuk organik. Tapi kalau kita menggunakan lahan bakar, itu pasti kita menggunakan pupuk-pupuk kimia. Ini akan menambah biaya,” katanya lagi.
Berdasarkan pengalaman, Saban menilai pembakaran hanya memberi keuntungan sesaat, sedangkan cara tanpa bakar memungkinkan bahan organik di sekitar lahan dimanfaatkan kembali.
Ia juga melihat kerugian lain dari pembakaran. Asap dapat mengganggu kesehatan warga, terutama balita dan lanjut usia. Sementara itu, kebakaran di lahan sekitar dapat merambat ke kebun yang telah dirawat. Karena itu, Saban berusaha berbagi pengalaman dengan petani lain, termasuk melalui diskusi dan edukasi mengenai pengolahan lahan tanpa bakar.
Pernyataan tegas untuk tidak membakar gambut juga ditegaskan oleh Dr. Ir. Urai Edi Suryadi, MP, Kepala Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat Universitas Tanjungpura sekaligus ahli fisika tanah yang mendalami tanaman gambut.
“Rekomendasi untuk pertanian berkelanjutan di atas lahan gambut adalah jangan dibakar. Jangan dibakar.” tegasnya.
Menurut dia, kebakaran dapat merusak sifat gambut dan membuat lapisan atasnya sulit menyerap air kembali. Api juga dapat menjalar di bawah permukaan, sehingga proses pemadaman menjadi lebih sulit.
“Karena kalau dibakar gambut, itu akan mati. Bagian atasnya nanti dia akan hidrofobik. Tidak bisa menyerap air,” ujarnya.
Dampaknya tidak berhenti pada tanaman yang hangus. Kebakaran gambut juga dapat menimbulkan asap berkepanjangan, mengganggu kesehatan, menghambat aktivitas ekonomi, dan memerlukan waktu pemulihan yang panjang. Urai Edi memperkirakan pemulihan lahan gambut yang terbakar dapat memakan waktu lebih dari 20 tahun, bahkan kondisi akhirnya belum tentu kembali seperti semula.
“Gambut itu pembentukannya 1 milimeter per tahun. Jadi, kalau gambut di Kalbar ini 6–7 meter, berarti diperlukan sekitar 7.000 tahun pembentukan kembali. Jadi, bayangkan kalau lahan purba ini kita bakar,” cetusnya
Ia mengibaratkan gambut sebagai spons raksasa yang membantu menyimpan air. Ketika ekosistem ini rusak, kemampuan lahan dalam menjalankan fungsi hidrologisnya juga dapat terganggu.
“Gambut itu punya peranan penting di alam dalam menjaga air. Karena satu meter gambut volumenya, itu mampu kurang lebih menyerap 15 meter kubik air,” katanya lagi.
Pandangan itu juga diperkuat dengan penjelasan Rossie Wiedya Nusantara, akademisi Program Studi Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Tanjungpura. Menurut Rossie, pengelolaan gambut harus memperhatikan kondisi air, tutupan vegetasi, jenis tanaman, dan cara membuka lahan. Pertanian tanpa bakar serta pengolahan tanah seminimal (minimum tillage) mungkin merupakan bagian dari prinsip pengelolaan tersebut.
Ia juga mengingatkan bahwa budidaya tanaman buah di gambut perlu mempertimbangkan kedalaman dan karakteristik lahan. Pola agroforestry atau polikultur lebih sesuai daripada monokultur intensif, dengan tetap memperhatikan vegetasi penutup dan tata air.
Artinya, keberhasilan demplot tidak cukup dilihat dari pohon yang tumbuh atau buah yang dipanen. Kondisi gambut dan airnya juga perlu dijaga agar kegiatan pertanian tidak justru memperbesar risiko kerusakan lingkungan.
Saban dan kelompoknya menerapkan prinsip itu melalui pilihan tanaman, pengelolaan tanpa bakar, dan penggunaan pupuk organik.
Namun ia juga sadar, perjuangan mempertahankan gambut tidak cukup dilakukan oleh satu kelompok. Lahan yang dikelola tanpa bakar tetap dapat terancam ketika api datang dari kawasan sekitarnya. Karena itu, edukasi dan perubahan kebiasaan masyarakat menjadi bagian penting dari upaya pencegahan.
Saban ingin gambut tetap dapat dimanfaatkan oleh generasi berikutnya. Maka dari itu ia tetap berkomitmen melestarikan gambut tanpa harus dihanguskan. Agar gambut tetap ada sebagai warisan untuk masa depan generasi mendatang.
“Sayang sekali kalau gambutnya habis, karena ini warisan untuk anak cucu kita nanti. Mereka yang menerima akibatnya, kalau gambutnya habis,” tuturnya.
Ia juga ingin masyarakat melihat gambut bukan sebagai tanah yang harus dibakar agar bisa ditanami, melainkan ekosistem yang perlu dirawat.
Buat Pupuk
Di kebun Saban, sisa rumput dan bahan organik tidak otomatis dibuang atau dibakar. Cara lain untuk menjaga ekosistem gambut adalah mengolah sisa-sisa vegetasi untuk membuat pupuk.
Para petani gambut ini memanfaatkan kotoran kambing, batang pisang, sekam, serta bahan lain yang tersedia di lingkungan sekitar untuk membuat pupuk bokashi.
Saban memperlihatkan tanah gambut yang memakai pupuk bokashi
“Kita timbuskan kayak gini. Ini bukan kita buang sampah. Kalau awam bilang rumput itu sampah, kalau kita rumput itu adalah pupuk,” katanya sambil mengumpulkan rumput-rumput dan sisa-sisa daun gugur dari pohon.
Pupuk bokashi adalah pupuk organik yang dibuat melalui proses fermentasi bahan-bahan organik. Bahan lain pembuatan pupuk bokashi adalah memanfaatkan limbah lele. Saban mengembangkan budidaya lele menggunakan bak berlapis terpal.
Selain menghasilkan bahan untuk pupuk, bak tersebut juga menjadi sumber air yang dapat dimanfaatkan ketika dibutuhkan dalam keadaan darurat. Penggunaan bak tersebut merupakan bagian dari upaya menyiapkan cadangan air di dekat kebun.
Ibu-ibu kelompok tani Berkah Pelopor Petani Gambut mandapat pelatihan membuat pupuk bokashi
Kelompok SPPG juga membuat Formula F1 Embio yang diracik sendiri untuk membantu proses penguraian bahan organik dan mendukung pemupukan tanah. Saban menyebut pupuk dan formula tersebut dikembangkan dari bahan-bahan alami dan telah diuji di laboratorium Universitas Tanjungpura (Untan), dengan pendampingan Pertamina AFT Supadio.
“Untuk dipatenkan, belum. Tapi sudah dites di laboratorium Untan dan diteliti kandungannya lebih dari pupuk yang lain. Perbandingannya lebih bagus dibanding pupuk kimia yang serupa,” akunya.
Namun, membuat pupuk tidak cukup dengan mencampurkan semua bahan begitu saja. Saban mengembangkan racikannya melalui pengalaman, pelatihan, dan percobaan berulang.
Untuk Formula F1 Embio, ia menyebut bahan seperti nanas, gula merah, tepung kanji atau sagu, bekatul padi, air, dan terasi. Bahan-bahan tersebut diracik melalui proses fermentasi yang ia kembangkan sendiri.
“F1 Embio ini untuk memperbanyak sejenis bio bakterinya lebih banyak. Bisa dikatakan pupuk juga karena dicampur ke pupuk. Misalnya 100 gram, bakterinya akan bisa sampai 1000 gram,” jelasnya.
Saban mengambil segenggam tanah dari bawah pohon jambu. Ia juga menunjuk rumput-rumput dan dedaunan kering yang berguguran di bawah pohon. Ia membandingkan tanah yang subur menggunakan pupuk organik dengan tanah yang menggunakan pupuk kimia.
“Ini tanah yang subur kayak gini. Gembur. Kalau kita pakai kimia, dia warnanya hitam. Tapi kalau ini bukan hitam, namun agak kecoklat-coklatan. Tanah ini kalau di musim kemarau, dia akan tetap lembab. Tapi kalau menggunakan kimia ini akan kering,” jelasnya.
Pengetahuan membuat pupuk itu juga dibagikan kepada anggota kelompok. Perempuan mengambil bagian dalam proses tersebut.
Ponirah (59), salah satu anggota kelompok yang pernah mengikuti pelatihan pembuatan pupuk organik selama empat hari, sangat mendukung kegiatan yang bertujuan untuk melestarikan budidaya tanaman ini.
“Kalau tanah gambut ini dibanyakkan kimia, tidak akan ada hasil. Jadi, dengan adanya pengolahan tanpa bakar dan tambah lagi kita pakai pupuk non kimia, insyaallah akan terus bisa dinikmati anak cucu kita kedepannya,” ucapnya.
Selain pelatihan, ia mendapat kesempatan bertukar pengalaman melalui kegiatan kelompok dan pendampingan bersama Pertamina. Ia berharap keterampilan yang diperoleh bisa membantu kelompok mempertahankan budidaya tanaman dan membuka peluang penghasilan bagi warga.
Qonita Nadya Sari, Community Development Officer Pertamina AFT Supadio menjelaskan bahwa pembuatan pupuk Bokashi menjadi salah satu bagian dari pendampingan untuk mendukung keberlanjutan tanaman di demplot.
Menurutnya, potensi ekonomi untuk memperjualbelikan pupuk bokashi ini sangat mungkin terjadi. Karena pupuk ini sudah dievaluasi dan sudah terbukti efektif, terutama untuk keberlanjutan tanaman.
“Pupuk bokashi sangat mungkin untuk diperjualbelikan. Nanti dari pengurusan izin edarnya akan kami dampingi dan juga komunikasi dengan dinas-dinas terkait. Selama ini memang masih dibuat dan dimanfaatkan oleh kelompok sendiri secara kolektif,” ungkapnya.
Ketika Api Menyerang
Per 29 Juli 2026, BPBD Kalimantan Barat menetapkan status siaga darurat bencana asap hingga 15 November 2026. Saat itu, Kubu Raya mencatat 64 titik panas, tertinggi di antara kabupaten lain.
Meski dikembangkan tanpa bakar, demplot di Kuala Dua tidak sepenuhnya terlepas dari ancaman kebakaran.
Pada Februari lalu, api merambat dari area lain dan mencapai Demplot 2, lokasi percontohan kedua yang dikelola warga Kuala Dua. Menurut Saban, lahan itu terbakar ketika mereka sedang sibuk dengan kebakaran lain. Sebab peran warga Kuala Dua tidak berhenti di kebun. Saban juga menjadi koordinator Masyarakat Peduli Api Desa Kuala Dua. Sebagian besar anggota MPA, merupakan petani yang terlibat dalam kelompok tani.
“Kemarin pas kebakaran terjadi, kebetulan kita lagi sibuk di Februari. Terbakar lahan kita itu. Tanpa sepengetahuan kita itu dalam hitungan setengah jam sudah habis lahannya,” ceritanya.
Lahan demplot dua yang terbakar
Di tengah situasi tersebut, kelompok menghadapi pilihan yang tidak mudah, menyelamatkan lahan yang mereka rawat atau membantu menangani kebakaran di tempat lain.
Saban memilih mendahulukan kemanusiaan.
“Jadi kita posisinya serba salah. Satu sisi kita untuk kemanusiaan, satu sisi untuk demplot kita. Jadi kita utamakan kemanusiaan dulu,” tuturnya.
Keputusan itu memperlihatkan sisi lain kehidupan warga yang berhadapan dengan karhutla. Mereka bukan hanya pemilik kebun yang berusaha menyelamatkan tanaman, melainkan juga bagian dari masyarakat yang saling membutuhkan ketika bencana datang.
Peran petani memberi mereka pengalaman langsung mengenali lahan yang mereka kelola. Mereka memahami lokasi tanaman, akses menuju kebun, dan sumber air yang tersedia. Serta bagaimana karakteristik lahan gambut disana. Pengetahuan tersebut menjadi bekal ketika harus bergerak membantu menangani kebakaran di lahan gambut.
“Jadi lebih cepat geraknya juga karena sudah jadi Masyarakat Peduli Api dan ketika terjadi kebakaran sudah langsung sigap. Kami sudah tahu gimana caranya bila terjadi kebakaran itu gimana caranya untuk cepat tanggap dan cara memadamnya yang lebih efektif. Karena ini petani rata-rata mengerti,” ungkapnya.
Bagi masyarakat yang hidup berdampingan dengan gambut, api bukan sekadar sesuatu yang melahap semak dan pepohonan. Ia bisa merambat ke bawah permukaan tanah, bertahan dalam lapisan yang sulit dijangkau, lalu muncul kembali ketika keadaan mendukung. Karena itu, pekerjaan tidak selalu selesai ketika kobaran api tak lagi terlihat.
Dalam beberapa kejadian, warga harus bersiap pada malam hari sekalipun. Kondisi itu membawa konsekuensi waktu dan tenaga yang biasanya digunakan untuk mengurus tanaman bisa tersita untuk penanganan karhutla.
Tugas MPA, menurut Saban, bukan hanya memadamkan api. Sebagai petani, mereka juga berupaya mengedukasi masyarakat agar tidak terjadi karhutla. Salah satunya tidak membuka lahan dengan cara membakar.
Saat para lelaki bertugas bersama MPA, para perempuan membantu menjaga kebun tetap terurus.
Pembagian peran tersebut memperlihatkan bahwa kesiapsiagaan bukan pekerjaan satu orang. Ada warga yang membantu penanganan kebakaran, ada ibu-ibu yang menjaga tanaman, dan ada pula yang menyiapkan sumber daya yang bisa dimanfaatkan ketika api mendekat.
Namun pengetahuan lokal tetap perlu berjalan bersama prosedur keselamatan. Penanganan karhutla harus memperhatikan keselamatan petugas dan warga, termasuk risiko asap, panas, serta api yang dapat menjalar di bawah permukaan gambut. Kesiapsiagaan masyarakat penting, tetapi tidak menggantikan dukungan petugas berwenang dan perlengkapan yang sesuai.
Di tengah upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kubu Raya, PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan melalui Aviation Fuel Terminal (AFT) Supadio turut menyalurkan bantuan kemanusiaan. Secara bertahap, sejak 17 Juli hingga 25 Agustus 2026, Pertamina mendistribusikan 1.000 paket bantuan berisi masing-masing 10 lembar masker dan dua vitamin kepada masyarakat terdampak serta petugas di sejumlah posko karhutla.
Bantuan juga mencakup 16.000 liter air layak konsumsi serta dukungan bahan bakar minyak (BBM) bagi barisan pemadam kebakaran guna menunjang mobilitas personel dan operasional pemadaman. Penyaluran dilakukan melalui sejumlah posko penanganan karhutla di Limbung, Kuala Dua, Rasau Jaya, serta BPBD Kabupaten Kubu Raya.
Area Manager Communication, Relations & CSR Regional Kalimantan PT Pertamina Patra Niaga, Edi Mangun, mengatakan bantuan tersebut merupakan bentuk kepedulian perusahaan terhadap masyarakat terdampak sekaligus dukungan bagi petugas di garis depan penanganan karhutla. Pertamina juga berkoordinasi dengan pemerintah daerah, BPBD, Masyarakat Peduli Api (MPA), dan pemangku kepentingan lainnya untuk menyesuaikan dukungan dengan kebutuhan di lapangan.
Mitigasi SIGAP
Di salah satu titik demplot, sebuah perangkat kecil terpasang pada tiang, dengan panel surya di bagian atasnya. Bentuknya sederhana, jauh dari bayangan orang tentang teknologi canggih yang memenuhi layar dan ruang kendali.
Demplot 1, yang berada di belakang rumah Saban, relatif aman dalam kejadian tersebut. Saat para lelaki turun membantu penanganan karhutla melalui kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA), para perempuan tetap mengurus tanaman dan memanen jambu.
“Saat karhutla kemarin, ibu-ibu yang panen. Masih bisa dapat 2 ton dari 300 batang ini,” kata Saban.
Di tengah ancaman kebakaran, hasil kebun menjadi pengingat bahwa lahan yang dikelola dengan tekun dapat tetap memberi penghidupan. Namun, pengalaman di Demplot 2 juga menunjukkan bahwa pengolahan tanpa bakar bukan jaminan kebun kebal terhadap api yang merambat dari luar. Karena itu, merawat lahan dan mitigasi menghadapi karhutla harus tetap dilakukan.
Teknologi SIGAP (Sistem IoT Gambut Siaga Api yang terpasang di Demplot 1 Kuala Dua
Namanya SIGAP, singkatan dari Sistem IoT (Internet of Things) Gambut Siaga Api. Bisa juga dikatakan Sistem Informasi Gambut Siaga Api. Teknologi ini dikembangkan melalui kolaborasi Pertamina AFT Supadio dan Universitas Tanjungpura, dengan sensor untuk mendeteksi asap dan memantau suhu serta kelembaban udara. Informasi dikirim melalui modem dan jaringan komunikasi ke aplikasi Telegram di ponsel.
Untuk mendukung deteksi dini, Demplot 1 dan Demplot 2 dilengkapi teknologi SIGAP.
Qonita menjelaskan, gagasan pengembangan SIGAP berangkat dari kebutuhan di sekitar demplot. Lahan yang berbatasan dengan kawasan percontohan masih berupa semak belukar dan berpotensi terbakar. Sementara demplot yang dikelola tanpa bakar perlu dilindungi dari api yang datang dari luar.
“Kita memang pengen dibikin untuk sensor deteksi dini,” kata Qonita, menjelaskan awal kolaborasi dengan Universitas Tanjungpura.
Pemantauan dilakukan lewat ponsel. Pengguna dapat melihat laporan kondisi sensor secara berkala dan realtime. Jika parameter tertentu melewati batas yang ditetapkan, sistem dapat mengirimkan notifikasi ke grup Telegram yang terhubung dengan petani.
“Jadi kita diajarkan bagaimana cara mengoperasikan, bagaimana cara mendeteksi terjadinya karhutla. Atau hotspot yang ada. Teknologi ini sangat mendukung karena di situ ada deteksi asap dan ada deteksi panas,” jelasnya.
Menurut Saban, cara ini membantu pemantauan tanpa harus selalu berada tepat di dekat perangkat. Ia dan anggota kelompok yang telah diajari mengoperasikannya dapat memeriksa informasi dari ponsel, lalu menindaklanjutinya sesuai kondisi di lapangan.
“Jadi kami yang punya lahan, sangatlah terdukung dengan alat SIGAP ini. Alatnya kecil tapi cukup luas jangkauannya. Dari jarak 10 meter sudah terdeteksi. Kalau untuk panasnya itu sekitar 25 meter sudah tahu,” jelasnya lagi.
Uray Ristian, dosen Program Studi Rekayasa Sistem Komputer Universitas Tanjungpura, menerangkan bahwa SIGAP dirancang untuk mendeteksi asap serta memantau suhu dan kelembaban udara. Sistem kemudian mengirimkan informasi ke grup Telegram, termasuk laporan berkala yang membantu pengguna mengikuti perubahan kondisi di lokasi lahan.
“Dengan notifikasi itu, petani memiliki informasi awal mengenai kondisi di sekitar lahan tanpa harus selalu berada di titik pemantauan. Perangkat ini menggunakan panel surya sebagai sumber daya, dengan modem untuk mengirimkan data. Masyarakat hanya bekal hp saja untuk memantau lewat aplikasi Telegram,” jelasnya.
Meski berukuran relatif kecil, SIGAP dirancang untuk membantu petani mengenali indikasi awal kebakaran. Alat ini, katanya, memang dibuat sebagai salah satu sarana mitigasi terjadinya karhutla.
Menurut Uray, jangkauan pemantauan perangkat berada di kisaran 300–500 meter, bergantung pada kondisi dan penempatan alat. Keandalan pengiriman informasi juga dipengaruhi kestabilan jaringan, cuaca, dan kondisi perangkat.
“Sistem menggunakan panel surya dan baterai untuk menyuplai daya. Meski demikian, pengoperasiannya masih bergantung pada jaringan komunikasi dan kondisi perangkat. Cuaca, panas di dalam kotak alat, kelembaban, serta gangguan pada komponen dapat memengaruhi kinerjanya. Jadi memang harus, biasanya kami ngecek berkala,” kata Uray, menjelaskan pentingnya pemeriksaan lapangan dan kalibrasi sensor.
Uray menjelaskan, sistem dapat mengirimkan peringatan ketika parameter tertentu melewati ambang yang ditetapkan. Untuk suhunya, diatas 35 atau 40 derajat sudah ada notifikasinya. Pengaturan ambang dan pembacaan sensor perlu diperiksa secara berkala agar notifikasi tetap sesuai dengan kondisi lapangan.
Pengalaman kebakaran di demplot kedua juga menunjukkan batas kemampuan teknologi. Menurut Uray, sistem sempat mengirimkan notifikasi ketika kebakaran terjadi, tetapi kabel perangkat terdampak api. Peringatan dini dapat membantu warga mengetahui adanya indikasi bahaya, tetapi tidak dapat menghentikan api yang terus merambat.
“Jadi dia sudah notifikasi, apinya tetap jalan,” ujarnya.
Pernyataan itu penting untuk memahami fungsi SIGAP secara proporsional. Teknologi tersebut bukan pengganti petugas pemadam atau MPA, bukan pula jaminan bahwa lahan akan aman dari kebakaran. Ia merupakan alat bantu pemantauan yang dapat mempercepat penyampaian informasi, sehingga manusia mempunyai kesempatan untuk merespons lebih cepat.
Uray menyebut SIGAP masih berada pada tahap prototipe saat tawaran kolaborasi dari Pertamina datang dan masih perlu dikembangkan. Ia merancang alat ini bersama mahasiswa didiknya di Prodi (Program Studi) Rekayasa Sistem Komputer dan berpijak pada penelitian dosen-dosen juga.
“Sejak awal tahun kemarin sudah dipasang di Desa Kuala Dua. Untuk saat ini kita pemasangannya sudah ada di 4 titik, di daerah sekitaran Kuala Dua dan juga di sekitar Arang Limbung,” ungkapnya.
Tantangan lainnya adalah memastikan alat terawat dan dapat berfungsi ketika dibutuhkan. Perangkat sederhana memang relatif lebih mudah dipahami pengguna, tetapi tetap memerlukan pemeriksaan, dukungan teknis, dan jaringan yang memadai.
Dengan demikian, SIGAP bekerja sebagai bagian dari rangkaian kesiapsiagaan, sensor membaca tanda, ponsel menyampaikan informasi, dan warga memutuskan tindakan yang perlu dilakukan. Sebab tanpa tindak lanjut di lapangan, notifikasi hanya akan menjadi pesan yang lewat di layar.
Warisan Terbaik
Menjaga gambut bukan sekadar memastikan kebun tetap produktif, tetapi juga merawat warisan alam dan mewariskan pengetahuan untuk menjaganya kepada generasi mendatang.
Saban mengambil bahan untuk pembuatan pupuk bokashi
Pengalaman di demplot dua menyisakan pelajaran lebih besar untuk Saban. Kesiapsiagaan di satu kebun saja tidak cukup selama api masih bisa merambat dari lahan lain. Pencegahan harus menjangkau kawasan yang lebih luas, disertai kesadaran masyarakat untuk memahami cara mengelola lahan tanpa memperbesar risiko kebakaran.
Saban berpendapat, menjaga gambut bukan hanya soal mempertahankan kebun agar tetap produktif. Lebih dari itu, ia ingin mewariskan lahan yang lestari sekaligus pengetahuan untuk merawatnya kepada generasi berikutnya.
“Gambut ini untuk warisan ke anak cucu kita yang harus dilestarikan. Tapi kalau tanpa ilmu nanti kita serahkan ke anak cucu kita, ya hancur juga,” ujarnya.
Karena itu, sejak anaknya masih duduk di bangku sekolah dasar, Saban sudah mengenalkan cara budidaya jambu, mulai dari stek hingga sambung pucuk. Kini, anak-anak yang lebih kecil juga diajak mengenal kebun dan belajar memetik buah. Menurutnya, kecintaan menjadi pintu masuk bagi pengetahuan. Anak-anak yang sejak dini mengenal tanaman diharapkan tumbuh dengan rasa ingin tahu, lalu kelak mampu mengembangkan cara bertani yang lebih baik. Ia membayangkan generasi setelahnya tidak hanya meneruskan kebun yang ada, tetapi juga mengolahnya dengan pengetahuan dan teknologi yang lebih maju.
“Jadi biar cinta dulu ke tanaman. Kalau udah cinta ke tanaman pasti dia ada tujuan, penasaran dan penasaran,” katanya.
Untuk keberlanjutan, Qonita menyebut salah satu arah pengembangan berikutnya adalah meningkatkan nilai tambah hasil pertanian. Hasil kebun tidak hanya dijual dalam bentuk buah segar, tetapi berpotensi diolah menjadi produk turunan. Ia juga melihat peluang pengembangan wisata edukasi, seperti pengalaman memetik buah secara langsung, apabila kondisi tanaman dan kesiapan lokasi sudah mendukung.
Namun, rencana tersebut masih membutuhkan tahapan. Tanaman perlu tumbuh, produksi terjaga, dan pengelolaan terus dievaluasi.
Rossie menegaskan bahwa keberlanjutan pertanian gambut perlu dilihat dari tiga dimensi: ekonomi, ekologi, dan sosial. Produktivitas serta pendapatan petani penting, tetapi demikian pula kelembapan gambut, tutupan vegetasi, pencegahan kebakaran, dan keterlibatan masyarakat.
Dan menjaga gambut bukan pekerjaan satu keluarga atau kelompok tani saja. Kesadaran itu harus tumbuh di tengah masyarakat. Urai Edi Suryadi mengingatkan bahwa tantangan terbesar dalam menjaga keberlanjutan justru terletak pada manusia. Teknologi dan ilmu pengetahuan tidak akan banyak berarti jika kebiasaan membakar lahan masih terus dilakukan.
“Tantangan terberat kita menjaga keberlanjutan adalah manusianya. Sosialisasi antar manusia itu penting,” ujarnya.
Menurut Urai, perubahan perilaku menjadi kunci. Edukasi pembukaan lahan tanpa bakar, pengelolaan gambut yang tepat, kesiapsiagaan masyarakat, serta pemanfaatan teknologi deteksi dini harus berjalan beriringan. Sebab, alam bukan sekadar sumber penghidupan yang bisa dimanfaatkan sesuka hati.
Urai mengingatkan agar manusia tidak terus-menerus menyalahkan musim dan cuaca. Alam memiliki siklusnya sendiri, sementara kerusakan sering kali berawal dari cara manusia memperlakukannya.
“Kita ini kan penumpang. Kita ini kan tamu di alam. Alam ini adalah rumah. Lalu kita datang, merusaknya,” katanya.
Pesan itu seolah mengembalikan manusia pada tempatnya. Gambut yang terbentuk selama ribuan tahun tidak sebanding dengan waktu singkat yang dibutuhkan api untuk melahapnya. Ketika rusak, ia tidak mudah dipulihkan. Karena itu, menjaga gambut harus dimulai sebelum api datang, melalui pengetahuan, kebiasaan, dan keputusan sehari-hari untuk tidak membakar.
Ada pula teknologi yang membantu memberi peringatan, dan kelompok masyarakat yang bersiap ketika api mengancam. Semua menjadi bagian dari usaha panjang merawat gambut.
Saban dan kelompok tani gambut mungkin tidak dapat memastikan seperti apa wajah kebun itu puluhan tahun mendatang. Namun dari kebun yang pernah hangus, mereka belajar menanam kembali. Dari rumput yang dianggap sampah, ia belajar membuat pupuk. Dari ancaman api, ia belajar bahwa menjaga kebun sendiri harus disertai kepedulian terhadap lahan di sekitarnya.
Dua demplot seluas 2,2 hektar ini, memang bukan jawaban untuk seluruh persoalan gambut. Namun, di situ ada usaha untuk mempertemukan penghidupan, pengetahuan, teknologi, dan kepedulian lingkungan.
Dan di antara buah-buah jambu yang mulai ranum, pekerjaan menjaga gambut masih berlanjut.
Kuala Dua居民守护免烧泥炭地,并与火灾威胁抗争
从屋后的园艺种植园到烟雾探测技术,Kubu Raya的Desa Kuala Dua居民通过免烧方式耕种、制作有机肥料,并在火灾威胁来临时做好防范,努力让泥炭地持续保持生产力。
KUBU RAYA — 在Saban家屋后,番石榴树和鳄梨树整齐地生长在他拥有的1.4公顷泥炭地上。茂密的番石榴叶间,红色的果实挂在枝头,其中一些已经成熟,可以采摘。
戴着斗笠的Saban(47岁)走近树木,检查果实,随后向人们介绍其他生长在屋后泥炭地上的植物。这里位于Kalimantan Barat省Kubu Raya县Sungai Raya区Desa Kuala Dua。
那天下午,天气并不十分炎热。空气中仍然悬浮着烟雾,虽然不浓,却看得见,也闻得到。几位中年妇女和两名男子也参与其中。他们是由Saban担任组长的Berkah Pelopor Petani Gambut(BPPG)农民小组。该小组共有22名成员,包括女性和男性农民。
当天是采摘水果的日子。妇女们看起来十分积极。她们带着篮子,一边聊天,一边开始采收。
这片第一示范地里种植着300棵水番石榴树。在丰收季节,他们一次最多可以收获2吨水果。Saban说,番石榴的采收并不受季节限制,几乎每天都能采摘。
“我们这里的番石榴没有固定的采收次数,因为每天都会有果实可以采摘。除了大规模丰收的时候。大丰收或集中采收大约每三个月一次,但平时每天也仍然有果实可以采收。”他说。
这片靠近Desa Kuala Dua公路的果园,成为了不通过焚烧方式让泥炭地保持生产力的一个实例。
从外面看,这里像是一座普通的果园。然而,在这些生长的树木背后,还有一段漫长的故事。Saban开始讲述自己的经历。
过去,他是一名商人。商业竞争让他开始考虑转换工作,转而务农。后来,森林与土地火灾(karhutla)进一步改变了他的人生道路。
Saban仍然记得,他那片面积超过一公顷的橡胶园,如何在大约半小时内被大火烧毁。当时,橡胶树甚至还没来得及为他带来收成。之后,他尝试种植菠萝,但这片果园在2019年再次遭遇火灾。
“还没来得及收成,橡胶园就被烧了。半小时内就全部烧光了。菠萝园也是一样。”他回忆道。
两次失去果园的经历让他重新思考。如果继续沿用相同的方式,他担心自己将不得不不断投入资金,从头开始种植。改变耕作方式的机会,来自他参加的一项泥炭地农民培训课程。这项课程是通过村庄提供的。从那里开始,他认识了免烧土地管理方式。随后,他尝试将这项知识付诸实践,并与其他居民共同发展。
从2020年开始,他逐步采用免烧方式开垦和管理土地。他邀请居民种植果树,采用农林复合经营(agroforestry)方式,将具有生产价值的树木与伴生作物结合种植。
2021年底,这项工作开始与农民小组共同发展,并获得Pertamina AFT Supadio的支持,之后成为Kuala Dua农林复合经营辅导计划的一部分。
“当时我们尝试采用农林复合经营。我们种植乔木类植物和果树,然后在旁边种植木薯作为伴生作物。感谢真主,我们能够持续收成。”他说。
截至目前,已经发展出两个示范种植地。在第一示范地,也就是Saban自己的土地上,居民种植了番石榴、牙买加番石榴、鳄梨和菠萝蜜。距离他的土地不远处,是面积为8,000平方米的第二示范地。农民在那里种植jengkol、petai、matoa、鳄梨和榴莲,并以木薯作为伴生作物。
这项农业经营并不是建立在立即获得收益的期待之上。Saban表示,部分植物需要时间生长,之后才能结果。因此,在多年生植物逐渐成长的同时,伴生作物可以成为一种选择,为农民带来经济收益。
免烧泥炭地管理不仅仅是改变清理土地的方式。Saban希望果园能够持续产出,同时不牺牲作为当地居民生活依托的土地。
守护泥炭地,必须从一个简单的决定开始:不焚烧它。
守护泥炭地
Saban和他的团队选择种植果树、利用有机材料,并且不焚烧植被。
Saban表示,种植果树是保护泥炭地的一种方式。他和团队没有选择蔬菜作物,而是以果树,尤其是番石榴类植物,作为主要乔木。这一选择来自他管理土地的经验。
根据Saban的说法,蔬菜种植要求农民持续照料作物,并跟随相对较短的收获周期。与此同时,他希望团队发展一种不仅能在短期内带来收成,也能够长期持续的农业模式。
“在泥炭地上,种树确实更好。”Saban说。
Saban表示,果树也具有生态意义。他认为,树木和植被覆盖对于维持土地状况十分重要。掉落的树叶和树枝被保留下来,成为有机物质循环的一部分,重新回归土壤。
“因此,掉落的树叶和树枝会促使泥炭再次形成。”他解释说,这也是团队选择果树作为主要乔木的原因。
免烧泥炭地管理也是一种经济考量。焚烧在土地开垦初期或许看起来更快,但这种短暂的便利,之后可能带来更大的成本,因为农民在火灾发生后必须重新种植。由于土壤中的养分也会在燃烧过程中遭到破坏,因此需要使用化学肥料来恢复土壤肥力。
“如果我们采用免烧方式管理土地,就一定会使用有机肥料。但如果采用焚烧方式管理土地,就一定会使用化学肥料。这会增加成本。”他再次说道。
根据自身经验,Saban认为,焚烧只能带来短暂的好处,而免烧方式则能让土地周围的有机材料得到重新利用。
他也看到了焚烧造成的其他损失。烟雾可能影响居民健康,尤其是幼儿和老年人。与此同时,周边土地发生的火灾也可能蔓延到已经精心照料的果园。因此,Saban努力与其他农民分享经验,包括通过讨论和教育活动,介绍免烧土地管理方式。
关于不得焚烧泥炭地的建议,也得到了Dr. Ir. Urai Edi Suryadi, MP的强调。他是Universitas Tanjungpura研究与社区赋权研究所负责人,同时也是一名专门研究泥炭地植物的土壤物理学专家。
“在泥炭地上开展可持续农业的建议就是不要焚烧。不要焚烧。”他强调说。
他表示,火灾会破坏泥炭的特性,使其表层难以再次吸收水分。火势也可能在地下蔓延,因此扑灭过程会更加困难。
“因为泥炭一旦被烧毁,就会失去原有的性质。它的表层会变得疏水,无法吸收水分。”他说。
影响并不止于被烧毁的植物。泥炭地火灾还可能造成持续性烟雾,危害健康、阻碍经济活动,并且需要很长时间才能恢复。Urai Edi估计,被烧毁的泥炭地可能需要超过20年才能恢复,甚至最终也未必能够回到原来的状态。
他将泥炭比作一块巨大的海绵,帮助储存水分。当这一生态系统遭到破坏时,土地发挥水文功能的能力也可能受到影响。
“泥炭在自然界中具有重要作用,能够帮助保持水分。因为一立方米的泥炭体积,大约能够吸收15立方米的水。”他补充说。
这一观点也得到了Rossie Wiedya Nusantara的进一步说明。她是Universitas Tanjungpura农业学院土壤科学专业的学者。Rossie认为,泥炭地管理必须考虑水分状况、植被覆盖、植物种类以及土地开垦方式。免烧农业和尽可能减少土壤翻耕(minimum tillage),可能是这类管理原则的一部分。
她也提醒,在泥炭地种植果树时,需要考虑土地深度和特性。与集约化单一种植相比,农林复合经营或多样化混合种植模式更为适合,同时仍需关注地表覆盖植被和水资源管理。
这意味着,示范种植地的成功不能仅仅通过树木是否生长或水果是否收获来衡量。泥炭地及其水分状况也必须得到保护,以免农业活动反而增加环境破坏的风险。
Saban和他的团队通过植物选择、免烧土地管理以及有机肥料的使用,落实这些原则。
然而,他也意识到,保护泥炭地不能只依靠一个小组。即使土地采用免烧方式管理,当火势从周边地区蔓延过来时,仍然可能面临威胁。因此,教育和改变居民的习惯,也是预防工作的重要组成部分。
Saban希望泥炭地能够继续留给下一代使用。因此,他始终坚持保护泥炭地,而不是让它被大火烧毁,让泥炭地继续成为未来世代的遗产。
“如果泥炭地消失了,那就太可惜了,因为这是留给我们子孙后代的遗产。如果泥炭地消失,承受后果的将是他们。”他说。
他也希望居民能够认识到,泥炭地并不是必须通过焚烧才能种植作物的土地,而是一个需要悉心照料的生态系统。
在Saban的果园里,剩余的杂草和有机材料不会被直接丢弃或焚烧。保护泥炭地生态系统的另一种方式,就是将剩余的植被材料加工成肥料。
制作肥料
这些泥炭地农民利用羊粪、香蕉茎、稻壳,以及周边环境中可以取得的其他材料,制作bokashi有机肥料。
“我们把这些东西埋起来。我们不是在丢弃垃圾。如果一般人认为杂草是垃圾,但对我们来说,杂草就是肥料。”他说着,一边收集杂草和树下掉落的枯叶。
Bokashi肥料是一种通过有机材料发酵制成的有机肥料。制作bokashi肥料的另一种材料是鲶鱼养殖产生的废弃物。Saban利用铺有防水篷布的水池开展鲶鱼养殖。
除了能够提供制作肥料的材料,这些水池也成为水源,在紧急情况下可以取用。使用这些水池,也是他们在果园附近准备备用水源的一部分措施。
SPPG小组还自行制作Formula F1 Embio,用于帮助有机材料分解,并促进土壤施肥。Saban表示,这种肥料和配方采用天然材料研发,并在Universitas Tanjungpura(Untan)实验室接受检测,过程中获得Pertamina AFT Supadio的协助。
“目前还没有申请专利。不过,已经在Untan实验室进行测试,也研究了它的成分,发现其表现优于其他肥料。与类似的化学肥料相比,效果更好。”他坦言。
然而,制作肥料并不是简单地将所有材料混合在一起。Saban通过经验、培训和反复试验,不断完善自己的配方。
对于Formula F1 Embio,他提到所使用的材料包括菠萝、红糖、木薯淀粉或西米粉、米糠、水和虾酱。这些材料通过他自行研发的发酵过程进行调配。
“F1 Embio是为了增加这类生物菌的数量。因为它会混入肥料中,所以也可以说是一种肥料。例如100克,细菌的数量可以增加到1,000克。”他解释说。
Saban从番石榴树下抓起一把土壤。他还指着树下的杂草和掉落的枯叶,将使用有机肥料的肥沃土壤与使用化学肥料的土壤进行比较。
“这种土壤就是肥沃的土壤,质地疏松。如果我们使用化学肥料,土壤会变黑。但这种土壤不是黑色,而是有些棕褐色。旱季时,这种土壤仍然能够保持湿润。但如果使用化学肥料,土壤就会变干。”他解释说。
制作肥料的知识也分享给了小组成员,女性成员同样参与其中。
Ponirah(59岁)是小组成员之一,曾参加为期四天的有机肥料制作培训。她非常支持这项旨在保护植物种植活动的工作。
“如果在泥炭土中大量使用化学肥料,就不会有收成。因此,通过免烧土地管理,再加上使用非化学肥料,希望未来我们的子孙后代也能够继续享用这片土地。”她说。
除了参加培训,她也有机会通过小组活动以及Pertamina的辅导,与其他成员交流经验。她希望所学到的技能能够帮助小组维持种植活动,并为居民创造增加收入的机会。
Pertamina AFT Supadio社区发展官Qonita Nadya Sari解释说,制作Bokashi肥料是支持示范种植地植物可持续生长的辅导工作之一。
她认为,这种Bokashi肥料具有很大的销售潜力,因为这种肥料已经经过评估,并被证明对植物的持续生长具有良好效果。
“Bokashi肥料完全有可能进行销售。之后,我们会协助办理流通许可,并与相关政府部门沟通。目前,这种肥料仍由小组成员共同制作和集体使用。”她透露。
截至2026年7月29日,BPBD Kalimantan Barat已将烟雾灾害应急警戒状态设定至2026年11月15日。当时,Kubu Raya记录到64个热点,是各县中数量最高的地区。
当火灾来袭
尽管采用免烧方式发展,Kuala Dua的示范种植地仍然无法完全摆脱火灾威胁。
今年2月,火势从其他区域蔓延,抵达第二示范地,也就是由Kuala Dua居民管理的第二处示范种植地点。据Saban介绍,当时他们正在忙于处理另一处火灾,土地便遭到烧毁。因为Kuala Dua居民的工作并不局限于自己的果园。Saban同时担任Desa Kuala Dua防火社区(Masyarakat Peduli Api,MPA)协调员。MPA的大部分成员都是参与农民小组的农民。
“前段时间发生火灾时,正好是2月份,我们当时正在忙着处理另一场火灾。我们的土地就这样被烧了,我们完全不知道,短短半小时内,整片土地就已经烧光了。”他讲述道。
在这种情况下,小组面临一个艰难的选择:是保护自己辛苦照料的土地,还是前往其他地方协助处理火灾。
Saban选择优先考虑人道救援。
“所以我们当时处境很为难。一方面是人道救援,另一方面是我们自己的示范种植地。因此,我们决定先把人道救援放在首位。”他说。
这一决定展现了居民面对森林与土地火灾时生活的另一面。他们不仅是努力保护作物的果园主人,也是灾害发生时彼此需要、相互扶持的社区成员。
农民的身份让他们拥有直接认识和了解自己所管理土地的经验。他们熟悉作物的位置、通往果园的道路,以及可以使用的水源,也了解当地泥炭地的特性。这些知识成为他们在泥炭地发生火灾时,前往协助处理火情的重要基础。
“因此,行动也会更快。因为我们已经加入防火社区,一旦发生火灾,就能够立即行动。我们已经知道发生火灾时应该怎么做,如何快速应对,以及怎样更有效地扑灭火灾。因为这里大多数人都是农民,对这些情况都比较了解。”他透露。
对于与泥炭地共同生活的居民来说,火灾并不只是吞噬灌木和树木的火焰。火势可能蔓延至地下,在难以触及的土层中持续燃烧,随后又在条件适合时重新出现。因此,当地表不再看见火焰时,工作并不一定就此结束。
在一些火灾事件中,居民甚至必须做好夜间待命的准备。这也意味着,他们原本用于照料作物的时间和精力,可能会被用于处理森林与土地火灾。
Saban表示,MPA的工作不仅仅是扑灭火灾。作为农民,他们也努力教育居民,避免森林与土地火灾发生。其中一项重要措施,就是不通过焚烧方式开垦土地。
当男性成员与MPA一起执行任务时,女性成员则帮助照料果园。
这种分工说明,防灾准备并不是一个人的工作。有居民参与火灾处理,有妇女负责照料植物,也有人准备在火势接近时可以使用的资源。
然而,当地知识仍然需要与安全程序相结合。处理森林与土地火灾时,必须关注工作人员和居民的安全,包括烟雾、高温,以及火势可能在泥炭层地下蔓延的风险。社区做好准备十分重要,但这并不能取代有关部门人员和适当设备所提供的支持。
在Kubu Raya县努力应对森林与土地火灾(karhutla)的过程中,PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan通过Aviation Fuel Terminal(AFT)Supadio也提供了人道主义援助。从2026年7月17日至8月25日,Pertamina分阶段发放了1,000份援助包,每份包括10片口罩和两份维生素,提供给受灾居民以及多个森林与土地火灾应对站点的工作人员。
援助还包括16,000升符合饮用标准的水,以及为消防队提供的燃油支持,以保障人员机动和灭火行动的开展。援助通过Limbung、Kuala Dua、Rasau Jaya的多个森林与土地火灾应对站点,以及BPBD Kabupaten Kubu Raya进行分发。
PT Pertamina Patra Niaga区域加里曼丹传播、关系与企业社会责任区域经理Edi Mangun表示,这些援助体现了公司对受灾居民的关怀,同时也是对处于森林与土地火灾应对一线工作人员的支持。Pertamina也与地方政府、BPBD、防火社区(MPA)及其他相关方进行协调,使援助能够符合现场实际需求。
在其中一处示范种植地,一台小型设备安装在支柱上,顶部配有太阳能板。它的外形十分简单,与人们想象中那些充满屏幕和控制室的先进技术相去甚远。
SIGAP预防与缓解措施
在此次火灾事件中,位于Saban家屋后的第一示范地相对安全。当男性成员通过防火社区(MPA)参与森林与土地火灾应对工作时,女性成员仍然留在果园里照料植物和采摘番石榴。
“前段时间发生森林与土地火灾时,是妇女们在采摘。我们这300棵树仍然能够收获2吨果实。”Saban说。
在火灾威胁之下,果园的收成提醒人们,经过认真管理的土地仍然能够为居民提供生计。然而,第二示范地的经历也表明,免烧土地管理并不能保证果园免受外部蔓延火势的威胁。因此,土地养护和森林与土地火灾预防工作仍然必须持续进行。
这套设备名为SIGAP,是“Sistem IoT(Internet of Things)Gambut Siaga Api”的缩写,也可以称为“Sistem Informasi Gambut Siaga Api”。这项技术由Pertamina AFT Supadio与Universitas Tanjungpura合作开发,配备了用于探测烟雾、监测温度和空气湿度的传感器。相关信息通过调制解调器和通信网络,发送至手机上的Telegram应用程序。
为了支持早期探测,第一示范地和第二示范地都安装了SIGAP技术。
Qonita解释说,开发SIGAP的想法源于示范种植地周边的实际需求。与示范种植地相邻的区域仍然是灌木丛,存在发生火灾的可能性。而采用免烧方式管理的示范种植地,需要得到保护,避免受到外部火势的威胁。
“我们确实希望能够制作一套早期探测传感器。”Qonita说,并解释了最初与Universitas Tanjungpura展开合作的原因。
监测工作通过手机进行。使用者可以定期查看传感器状况报告,也可以实时查看。如果某些参数超过设定的阈值,系统就能够向与农民连接的Telegram群组发送通知。
“我们接受了培训,学习如何操作设备,以及如何探测森林与土地火灾或现有热点。这项技术提供了很大的帮助,因为它能够探测烟雾,也能够探测热量。”她解释说。
Saban表示,这种方式让他们不必始终待在设备旁边,也能进行监测。他和已经接受操作培训的小组成员,可以通过手机查看信息,再根据现场情况采取后续行动。
“因此,我们这些土地所有者得到了SIGAP设备的大力支持。设备虽然很小,但探测范围相当广。距离10米就能够探测到烟雾。至于热量,大约25米的距离就能够知道。”他进一步解释说。
Universitas Tanjungpura计算机系统工程专业讲师Uray Ristian说明,SIGAP的设计用途是探测烟雾,并监测温度和空气湿度。随后,系统会将信息发送至Telegram群组,包括定期报告,帮助使用者了解土地所在地状况的变化。
“通过这些通知,农民能够提前了解土地周围的情况,而不必始终待在监测点。设备使用太阳能板作为能源,并配备调制解调器来发送数据。居民只需要一部手机,就可以通过Telegram应用程序进行监测。”他解释说。
尽管SIGAP的体积相对较小,但它的设计目的是帮助农民识别火灾发生的早期迹象。他表示,这套设备确实是用于缓解森林与土地火灾风险的一种辅助工具。
根据Uray的说法,设备的监测范围约为300至500米,具体取决于现场条件和设备的安装位置。信息传输的可靠性也会受到网络稳定性、天气以及设备状况的影响。
“系统使用太阳能板和电池供电。尽管如此,设备运行仍然依赖通信网络和设备本身的状况。天气、设备箱内的温度、湿度,以及零部件受到的干扰,都可能影响设备性能。因此,我们通常必须定期检查。”Uray说。他解释了现场检查和传感器校准的重要性。
Uray解释说,当某些参数超过设定阈值时,系统就能够发送警报。对于温度而言,超过35度或40度时,就会发出通知。为了确保通知仍然符合现场实际情况,必须定期检查阈值设置和传感器读数。
第二示范地发生火灾的经历,也显示了这项技术的能力边界。根据Uray的说法,火灾发生时,系统曾经发送通知,但设备的电缆受到火势影响。早期预警能够帮助居民了解危险迹象,却无法阻止持续蔓延的火势。
“所以它已经发出通知了,但火势还是继续蔓延。”他说。
这一说法对于正确理解SIGAP的功能十分重要。这项技术不能取代消防人员或MPA,也不能保证土地不会发生火灾。它是一种辅助监测工具,能够加快信息传递,让人们有机会更快地作出反应。
Uray表示,在Pertamina提出合作时,SIGAP仍处于原型阶段,之后还需要继续开发。这套设备由他与计算机系统工程专业的学生共同设计,同时也以多位讲师的研究成果为基础。
“从去年年初开始,这套设备就已经安装在Desa Kuala Dua。目前,我们已经在4个地点安装设备,分布在Kuala Dua周边以及Arang Limbung附近。”他透露。
另一项挑战是确保设备得到维护,并在需要时能够正常运行。虽然简单的设备相对容易让使用者理解,但仍然需要定期检查、技术支持和可靠的网络。
因此,SIGAP是整体防灾准备工作的一部分:传感器读取迹象,手机传递信息,居民则决定需要采取什么行动。因为如果现场没有后续应对,通知就只会成为屏幕上一条转瞬即逝的信息。
守护泥炭地,不只是确保果园持续保持生产力,更是保护自然遗产,并将守护它的知识传承给下一代。
最好的遗产
第二示范地的经历给Saban留下了更深刻的教训。只在一座果园做好防灾准备并不足够,只要火势仍然可能从其他土地蔓延过来,危险就始终存在。预防工作必须扩大到更广阔的区域,同时也需要提高居民的意识,让大家了解如何管理土地,避免增加火灾风险。
Saban认为,守护泥炭地不仅仅是让果园保持生产力。更重要的是,他希望将可持续的土地,以及照料这片土地的知识,一起留给下一代。
“泥炭地是留给我们子孙后代的遗产,必须得到保护。但如果我们没有知识,就把它交给下一代,那么它最终也会被毁掉。”他说。
因此,从孩子还在小学时起,Saban就开始教他们番石榴种植技术,包括扦插和嫁接。如今,年纪更小的孩子也被带到果园里,认识植物并学习采摘水果。
在他看来,培养热爱是获得知识的起点。他希望孩子们从小认识植物,逐渐产生好奇心,未来能够发展出更好的耕作方式。他设想,下一代不仅能够延续现有的果园,也能够运用更先进的知识和技术来经营土地。
“所以,先让他们爱上植物。如果已经爱上植物,他们自然就会有目标,也会不断产生好奇心。”他说。
对于未来的持续发展,Qonita表示,下一步的发展方向之一是提高农产品的附加价值。果园的收成不仅可以以新鲜水果的形式出售,也有机会加工成衍生产品。如果植物生长状况和场地条件已经具备,她也看到了发展教育旅游的机会,例如让游客亲自体验采摘水果。
不过,这些计划仍然需要分阶段推进。植物需要时间生长,产量需要保持稳定,管理工作也必须持续接受评估。
Rossie强调,泥炭地农业的可持续发展需要从三个层面来看待:经济、生态和社会。农民的生产力和收入固然重要,但泥炭地的湿润程度、植被覆盖、火灾预防以及社区参与,同样不可忽视。
守护泥炭地并不是一个家庭或一个农民小组的工作。这种意识必须在整个社区中逐渐形成。Urai Edi Suryadi提醒说,保护泥炭地可持续发展面临的最大挑战,实际上来自人类自身。如果焚烧土地的习惯仍然持续,即使拥有技术和科学知识,也难以发挥多大的作用。
“我们在维护可持续发展方面面临的最大挑战是人。人与人之间的宣传和教育非常重要。”他说。
根据Urai的说法,改变行为是关键。免烧土地开垦教育、正确的泥炭地管理、社区防灾准备,以及早期探测技术的运用,都必须同步进行。因为自然并不是一个可以任意利用的生计来源。
Urai提醒人们,不要总是将问题归咎于季节和天气。自然有自己的运行周期,而破坏往往始于人类对待自然的方式。
“我们只是乘客,是自然界的客人。自然是我们的家园。可是我们来了,却又破坏了它。”他说。
这番话仿佛让人们重新认识自己在自然界中的位置。泥炭需要数千年才能形成,而火焰吞噬它却只需要很短的时间。一旦遭到破坏,它就很难恢复。因此,保护泥炭地必须从火灾发生之前开始,通过知识、习惯,以及日常生活中不焚烧土地的选择来实现。
还有能够协助发出警报的技术,以及在火灾威胁来临时做好准备的社区小组。所有这些,都是长期守护泥炭地工作的一部分。
Saban和泥炭地农民小组或许无法确定,几十年后这片果园会变成什么样子。但从曾经被烧毁的果园中,他们学会了重新种植;从被视为垃圾的杂草中,他学会了制作肥料;从火灾威胁中,他也明白,保护自己的果园,必须同时关心周边的土地。
这两处总面积为2.2公顷的示范种植地,确实无法解决泥炭地面临的所有问题。但在这里,人们正在努力让生计、知识、技术与环境关怀结合在一起。
而在一串串逐渐成熟的番石榴之间,守护泥炭地的工作仍在继续。

Comment